565 × 318 - hollywoodreporter.com

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Senin, 18 Maret 2013

KAI Luncurkan Kereta Api Ramah Lingkungan Buatan PT INKA


Indonesia go green! Dalam rangka mewujudkan Indonesia yang hijau dan ramah lingkungan, PT Kereta Api Indonesia (KAI) meresmikan kereta baru dengan fasilitas WC atau toilet yang ramah lingkungan di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat pada 12 September 2010.
Direktur Utama PT KAI, Ignasius Jonan, mengatakan bahwa toilet ramah lingkungan tersebut berada pada KA Argo Lawu jurusan Jakarta-Solo yang berangkat pada pukul 21.05 WIB.
“PT KA selalu berusaha memperbaiki mutu pelayanan tidak hanya kepada penumpang tetapi juga kepada lingkungan sesuai dengan misi kereta api yakni untuk memberikan nilai tambah yang tinggi bagi kelestarian lingkungan,” ujarnya.
Ia mengharapkan semua rangkaian dan layanan kereta api di masa mendatang dapat menggunakan toilet ramah lingkungan ini.
“Kedepannya nanti diharapkan semua toilet yang ada di kereta api akan diganti dengan sistem seperti ini yang ramah lingkungan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, toilet tersebut memiliki bak penampungan sehingga kotoran tidak langsung jatuh ke jalan rel. Kemudian, dalam bak tersebut diisi air yang dicampur dengan bahan mikroba sebagai bahan penghancur dan penetralisir kotoran sehingga kotoran yang dibuang akan berbentuk air yang tidak mencemarkan lingkungan.
“Agar toilet berfungsi maksimal maka bak penampungan akan diganti setiap tiga bulan sekali,” ujarnya.
Gagasan ini sebenarnya sudah dirintis sejak 15 tahun lalu meski belum ideal ramah lingkungan karena limbahnya masih dibuang di track.
Pada tahun 1995,  ketika Direktur Utama PT Inka Roos Diatmoko masih menjabat sebagai Kepala Divisi Teknologi PT Inka, pernah mempresentasikan gagasan teknologi toilet ramah lingkungan ini kepada direksi Perumka (sekarang PT Kereta Api/KA). Namun, pada 2009 baru direalisasikan untuk Kereta Api Argo Lawu.
Toilet ramah lingkungan mengacu pada prinsip bersih, tidak menimbulkan bau, dan higienis. Limbah diproses dengan mikrobakteri sebelum dibuang di track (jalur) kereta api.
Karakteristik mikrobakteri yang dipilih harus sudah banyak tersedia di pasaran sekarang. Sekarang ini, dengan kapasitas 100 gram mikrobakteri, toilet mampu menghancurkan kotoran manusia padat seberat 1 kilogram dalam waktu delapan jam.
Menurut Roos, mengacu Jepang, di setiap stasiun semestinya terdapat pengolahan limbah dari setiap toilet kereta api. Limbah meski sudah dianggap ramah lingkungan tidak dibuang di track. Untuk melangkah ke situ ternyata untuk Indonesia masih terlampau berat.
Roos mengatakan, toilet ramah lingkungan kereta api secara sederhana memadukan sistem pembilasan (flushing) dan sanitasi. Sistem pembilasan menggunakan udara bertekanan untuk mengalirkan limbah toilet ke tangki penampungan.
Berikutnya, dengan sistem sanitasi di dalam tangki penampungan terjadi proses penguraian atau dekomposisi limbah. Di dalam tangki penampungan disediakan jalur pengisian mikrobakteri.
”Tidak ada pembuangan kotoran sebelum diproses mikrobakteri,” kata Roos.
Mikrobakteri di dalam tangki penampungan pada prinsipnya menguraikan limbah padat menjadi gas dan cairan. Limbah gas dan cairan ini tergolong ramah lingkungan karena tidak berbau ketika harus dibuang di jalur jalan kereta api.
Proses dekomposisi limbahnya secara aerobic biodegradation atau kinerja mikrobakteri yang membolehkan terkontaminasi dengan udara luar. Menurut Roos, mikrobakteri tidak membutuhkan perawatan kecuali penambahannya.
”Mikrobakteri juga diutamakan yang tahan odor dan desinfektan,” kata Roos.
Di dalam tangki penampungan terdapat bahan organik ijuk yang berfungsi sebagai filter atau penyaring limbah padat. Di dalam bahan filter itulah terjadi dekomposisi limbah oleh mikrobakteri.
Limbah padat yang sudah terdekomposisi akan menjadi cairan. Limbah ini kemudian dibuang ke track.
Roos mengakui, konsepsi toilet kereta api yang benar-benar ramah lingkungan secara ideal memang masih membutuhkan pengembangan, baik pengembangan untuk teknologi pendukungnya maupun jumlah gerbong kereta api yang harus dilengkapi dengan teknologi tersebut.
”Idealnya, toilet ramah lingkungan menggunakan teknologi vakum untuk mengakumulasikan limbah padat,” kata Roos.
Limbah padat yang terakumulasi itu lalu didekomposisi menggunakan mikrobakteri. Selanjutnya, dekomposisi limbah ini didistribusikan ke instalasi pengolahan limbah yang harus disediakan di setiap stasiun pemberhentian.
Saat ini PT Inka baru menginstalasikan toilet ramah lingkungan kepada enam gerbong Kereta Api Argo Lawu. PT KA baru memesannya Mei 2009. Selama lebih dari setahun, konstruksi toilet dibuat di Madiun.
”Dananya terjangkau, tidak lebih dari Rp 100 juta untuk satu toilet,” kata Roos.
KA Argo Lawu tersebut disamping menggunakan fasilitas toilet ramah lingkungan, juga menggunakan rangkaian KA baru produksi PT INKA sebanyak delapan kereta penumpang dan satu kereta makan. Menurut rencana, KA baru ini selanjutnya akan digunakan sebagai KA eksekutif Argo Dwipangga jurusan Jakarta-Solo.
Sebelumnya (3/9), PT KAI juga meluncurkan rangkaian Kereta Api (KA) kelas Ekonomi AC produksi PT INKA, yaitu Bogowonto dengan jumlah kapasitas penumpang adalah 80 orang, yang melayani rute Senen (Jakarta) menuju Kutoharjo (Jawa Tengah).
Kereta tersebut juga dirancang untuk kecepatan operasional 100 kilometer per jam serta umur teknis yang tidak kurang dari 25 tahun. Selain bahan dan komponen lokal mengacu pada Standar Industri Indonesia (SII) atau Standar Nasional Indonesia (SNI), rangkaian KA Bogowonto juga dilengkapi dengan generator listrik sebanyak 2×250 KVA yang dipergunakan untuk suplai listrik rangkaian kereta api.
Sekarang, kereta eksekutif Argo Lawu yang melintasi Jakarta, Cirebon, Purwokerto, Yogyakarta, dan Solo menyediakan toilet yang bersih, tidak berbau, dan higienis. Publik masih menunggu peranan lebih lanjut industri nasional PT Inka ini untuk terus berinovasi mengembangkan teknologi perkeretaapian kita. Harapan yang sama juga tertuju kepada pemerintah dan PT KA sendiri.