565 × 318 - hollywoodreporter.com

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Selasa, 19 Maret 2013

Di ASEAN Belum Ada Negara Selain Indonesia yang Mampu Buat Pesawat


Jakarta - Sampai saat ini untuk urusan membuat pesawat Indonesia masih paling terdepan dibandingkan negara-negara di ASEAN, pasalnya sampai saat ini belum ada satupun negara di ASEAN yang mampu membuat pesawat selain Indonesia.

Hal tersebut seperti diungkapkan anak sulung Presiden BJ Habibie, Ilham A. Habibie ketika ditemui detikFinance di kantornya Kawasan Mega Kuningan, Jakarta, seperti dikutip Senin (18/3/2013).

"Kita masih menjadi negara yang paling unggul untuk membuat pesawat dibandingkan negara-negara ASEAN," ucap Ilham.

Kata Ilham, bukan berarti negara lain seperti Malaysia, Singapura dan lainnya tidak mampu.

"Kalau Malaysia sampai saat ini hanya bisa membuat bagian-bagian pesawat atau sub kontraktor, sedangkan Indonesia bisa membuat pesawat utuh dan kita punya pabrik pembuatan pesawat (PT Dirgantara Indonesia)," ucap Ilham.

Salah satu contohnya kata Ilham, Indonesia mampu membuat pesawat CN235, 2212, N-250.

"Kita mampu buat CN235 itu dalam bentuk Joint venture, 2212 itu pesawat untuk lisensi dan N-250, apalagi kita punya market khususnya dalam negeri, kemampuan kita lengkap, kalau dibandingkan dengan Malaysia kita jauh lebih terdepan. Malaysia saat ini tidak mampu buat pesawat utuh karena risiko cukup besar karena pasar dalam negeri mereka tidak banyak hanya 28 juta penduduk atau 1/10 kita, wilayahnya juga tidak terlalu luas yakni hanya di Semenanjung dan sebagian di pulau dekat Kalimantan,"ungkapnya.

Ditambahkan Ilham saat ini Indonesia dalam posisi yan enak, punya pasar dan punya kemampuan.

"Dan tidak ada kata terlambat untuk memulai membuat pesawat, 15 tahun lalu kita pernah terhenti perbuatan pesawat untuk sipil, tapi kali ini kita tidak boleh gagal dan saya rasa tidak ada yang bisa menghalangi kita termasuk IMF, karena kondisinya berubah," tandas Ilham.

Seperti diketahui Ilham bersama mantan Dirut Bursa Efek Indonesia (BEI) Erry Firmansyah membentuk PT Ragio Aviasi Industri (RAI) untuk memproduksi pesawat R-80. Pesawat ini akan melanjutkan mimpi N-250 yang dulu pernah dibuat BJ Habibie namun gagal karena proyek diminta dihentikan oleh IMF.