565 × 318 - hollywoodreporter.com

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Jumat, 29 Maret 2013

4 Pesaing Berat Pesawat Buatan Indonesia


Langkawi • Total produksi pesawat PT Dirgantara Indonesia (PT DI) sejak tahun 1976 hingga 2012 mencapai 347 unit, bukanlah angka yang sedikit, namun di luar sana, persaingan sangatlah ketat. Setidaknya ada 4 jenis pesawat yang menjadi pesaing berat PT Dirgantara, apa saja?

Dikatakan Vice President Corporate Communication PT DI Sonni Ibrahim ketika ditemui di The 12th Langkawi International Maritime & Aerospace Exhibition, Kamis (28/3/2013), ada 4 pesaing berat PT DI saat ini.

Alenia C27J


Pesawat C27 J Spartan ini merupakan pesawat buatan Italia. Jenis ini sama dengan kelas pesawat buatan PT DI seperti CN235 karena digunakan sebagai pesawat angkut versi militer.

"Kita bersaing ketat dengan Alenia untuk menang tender pengadaan pesawat TNI AU," ujarnya.

ATR 72 dan ATR 42


Pesawat yang dibuat dengan kerjasama dua negara yakni Prancis dan Italia ini bermesin jarak pendek dengan dua buah mesin baling-baling. Kapasitas penumpang ATR 72 ini mencapai 78 penumpang.

ATR 42 merupakan ATR generasi sebelum ATR 72, namun di ATR 42 jumlah kursi hanya 48 penumpang.

Skytruck


Pesawat buatan Polandia ini merupakan pesawat dengan daya angkut ringan. Mengandalkan dua mesin baling-baling, Skytruck merupakan saingan C212-400.

Dornier


Pesawai Dornier sempat sangat populer di Eropa. Pertama kali pesawat ini terbang pada 1991 dan memilik dua buah mesin yang menggunakan baling-baling. Pesawat ini saingan berat CN235-220.

Siapa Bilang Indonesia Tidak Bisa Buat Pesawat Sekelas Airbus dan Boeing

Tidak sedikit yang masih meragukan PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dalam membuat pesawat sekelas Airbus dan Boeing. Padahal sebenarnya PT DI yang memiliki banyak ahli-ahli pesawat terbang sangat bisa membuat pesawat seperti Airbus dan Boeing. Pertanyaannya boleh apa tidak?

"Siapa bilang kita tidak bisa buat pesawat seperti Airbus atau Boeing? Jawabannya sangat bisa. Tapi mau atau boleh kita buat? Siapa yang mau beli?," kata Vice President Corporate Communication PT DI, Sonni Ibrahim kepada detikFinance, di The 12th Langkawi International Maritime & Exhibition, Malaysia, Kamis (28/3/2013).

Pertama, dulu Indonesia punya N250 banyak yang menentang keberadaanya. "Itu pesawat sangat bagus, irit, cepat, muat banyak orang. Tapi apa yang terjadi, tanpa alasan yang logis IMF meminta pemerintah Indonesia untuk menghentikan proyek tersebut sebagai salah satu syarat untuk membantu Indonesia keluar dari krisis ekonomi," ucapnya.

Selain itu, pasar laris manis produk PT DI bukan disana. "Pasar kita sudah jelas, di kelas Medium-Heavy multi roles transport, medium multii roles transport, light, Far/CASR light. Belum sampai ke sipil," ujarnya.

Pasar pesawat PT DI di Asia Pasifik sangat luas. "Dan jika PT DI masuk ke pasar Airbus dan Boeing, apakah mereka diam saja? Tentu tidak," katanya.

Namun walau PT DI tidak membuat pesawat besar sekelas Airbus A380, A320 atau Boeing B747-200/400.

"Tetapi PT kami membuat komponen di pesawat-pesawat Airbus A380/A320/A321/A350. Ada pula kita buat komponen tooling dan airframe Boeing B 747/B-777/B-787, Euurocopter MK-II, Airbus Military di CN235/C295 dan C212-400," ungkap Sonni.

"Tidak hanya itu, kita juga melakukan providing maintenance, overhaul, repair, alteration di helikopter BELL 412, Boeing 737-200/300/400/500/A320.F100, F27 dan banyak lagi, so, bukan kita tidak bisa," tandasnya.(rrd/ang)